Pak Slamet Wirasonjaya, Dalam Kenangan Kami…

Antara percaya dan tidak ketika membaca salah satu pesan melalui WA. Tertulis namanya sebagaimana terrekam di phonebook: Prof. Slamet Wirasonjaya…. Betapa tidak, karena isinya menginformasikan bahwa beliau meninggal. Pengirim pesan adalah salahsatu putranya….

Rasa belum percaya, memanggil memori tentang beliau, sejak mulai kenal, selama menjadi asisten dosen, menjadi mahasiswa beliau, thesis, dan beberapa diskusi di IALI….

Ah, hanya kebaikan beliau yang terrekam…

14925567_10209399185510687_4327818803750299481_n

Berikut adalah kumpulan kesan-kesan tentang almarhum, dari rekan2 kelas ABA ’99 (Alur Studi Arsitektur Bentang Alam tahun 1999, Prodi Magister Arsitektur ITB). Tulisan ini adalah salahsatu bentuk hormat kami kepada beliau dan juga keluarga yang ditinggalkan….

10400687_20487198347_1137_n

Hanif Budiman

Slamet Wirasonjaya, mendengar nama itu, sebagian besar akademisi, praktisi bidang arsitektur atau lansekap di Indomesia (terutama yang senior), tentu akan terbayang pada sosok pria yang telah menghasilkan karya- karya fenomenal. Pengenalan saya pada sosok Prof Slamet Wirasonjaya, terjadi dalam waktu yang singkat, selama saya memilih program pasca sarjana ITB jalur Arsitektur Bentang Alam. Seseorang alumni ITB memberitahu sebelumnya, bahwa pada jalur itu ada gurubesar yang sangat disegani. Dan setelah bertemu, berdiskusi, mengikuti aktifikas beliau di kampus dan di kantor konsultan beliau, cukup terbukti bahwa beliau sosok yang luar biasa.

Secara personal, cukup dapat dimaklumi bahwa beliau sosok yang lebih banyak mengekspresikan gagasan dengan gambar dan karya, bukan dengan kata-kata. Tanggapan dan diskusi sering diungkapkan dengan bahasa yang lugas. Namun begitu, beliau sosok yang sangat respek dan sangat menjunjung etika serta performance, suatu nilai yang masih sangat relevan untuk ditekankan dan untuk mengimbangi arus zaman modern yang sangat liberal, bebas dan cair ini.

Secara akademik, catatan sangat penting dari beliau adalah pentingnya memahami ruang secara utuh keseluruhan ketika kita merancang dan membangun. Tidak perlu ada dikotomi ruang luar ruang dalam, tidak ada pemisahan arsitektur dan lansekap, ketika kita akan merancang bangunan pada suatu lingkungan. Kegelisahan beliau pada hilangnya sensitifitas rancangan ruang kontemporer saat ini pada nilai- nilai kearifan lokal, sangat terihat dari beberapa kali diskusi. Dimulai dari perlunya kita selalu memahami karakter lingkungan tropis nusantara, kebiasaan nenek moyang yang berakar pada keluhuran alam dan budaya, hingga kebiasaan – kebiasaan masyarakat, sangat beliau ditekankan dalam proses perancangan. ´´ Mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat jawa itu adalah masyarakat agraris dengan pengaruh ´hindu´nya cukup kuat ´´, suatu ungkapan yang masih terngiang dari beliau dalam suatu kuliah sejarah arsitektur bentang alam. Pemahaman beliau pada sejarah juga sangat kuat. Cerita menarik yang masih saya ingat adalah, pada era pasca renaissance, terjadi fenomena dimana ruang luar dan taman telah dirancang dengan baik dan bagus, ketika itu justeru bangunan – bangunan saat itu yang belum dan tidak disiapkan dengan baik untuk dapat mengimbanginya.

Dari sosok beliau, sebagai seorang arsitek, saya lebih memahami arsitektur justeru dari berbagai diskusi tentang kajian arsitektur lansekap. Dan saya ( semoga ) lebih memahami bagaimana memahami disain tanpa terkotak pada skala ruang, bangunan, kawasan atau bahkan kota. Hal inilah yang menjadi catatan sangat penting bagi ilmu perancangan secara keseluruhan. Saat ini, semakin terasa, betapa sangat gamang dan galau situasi dan kondisi ilmu rancangan arsitektur dan lansekap, ketika berhadapan dengan ilmu perencanaan kota dan infrastruktur misalnya, apalagi ketika ia berhadapan dengan ilmu umum lainnya.

Akhirnya, jikalah kita memang peduli dengan tantangan bidang perancangan dan perencanaan arsitektur atau lansekap di Indonesia, dan masih akan melanjutkan pemikiran besar Prof Slamet Wirasonjaya, maka ada baiknya kita terus mendiskusikan atau bahkan wajib mengaktualisasikannya secara sistematis agar dapat bermanfaat lebih luas bagi masyarakat. Semoga pemikiran beliau semakin membumi dalam diskusi, konsep dan aplikasi aplikasi nyata proses perencanaan dan perancangan keruangan nusantara.

Istanbul, 3 November 2016


Tigor Panjaitan

Figur Pak Slamet Wirasonjaya yang saya kenal sangat berbeda dengan cerita yang saya dengar. Sosok yang dikabarkan galak dan tidak kompromi ini ternyata sangat sabar dan menjadi teman berdiskusi yang asik.

Saya masih ingat saat kuliah akan dimulai, namun baru saya yang hadir. Maka beliau meminta saya memanggil teman-teman agar berkumpul terlebih dahulu sebelum kuliah dimulai. Saya bisa melihat kepedulian yang sangat tinggi agar tidak satu pun dari kami yang ketinggalan informasi.

Selama menempuh studi pasca sarjana, wawasan saya tentang lansekap semakin terbuka. Beliau tidak langsung mengajarkan kami tentang desain, sekalipun saya sangat berharap bisa langsung corat coret kertas di studio. Tetapi dia mengajak kami duduk manis sembari mendengarkan sejarah lansekap dan segala filosofi yang melatarbelakanginya. Suatu kegiatan yang sangat membosankan rasanya. Kegiatan tersebut berlangsung dari hari ke hari, minggu ke minggu.

Namun, kebosanan itu pun lambat laun pupus. Saya semakin memahami esensi dasar dari lansekap. Ternyata lansekap tidak sekedar berbicara estetika, namun juga makna yang terkandung didalamnya. Lansekap punya cerita dan bahkan jiwa.

Selamat jalan pak Slamet Wirasonjaya…. terima kasih sudah mengajarkanku untuk bersabar dan memahami lansekap terlebih dahulu sebelum aku menggoreskan mata pensilku di atas kertas. Semoga ilmu yang sudah kau berikan kepada kami bisa berguna buat masyarakat dan lingkungan.


Rahman Andra Wijaya

Pengaruh Slamet Wirasonjaya Pada 25299029

Seolah dewa, Pak Slamet Wirasonjaya menggetarkan banyak hati di lingkungan kampus Arsitektur Lansekap Trisakti. Beliau adalah guru dari sebagian besar pengajar saya, guru dari banyak orang yang saya hormati. Dengan kondisi demikian saya menganalogikan posisi beliau sebagai Kakek Guru, bahkan Kakek Buyut Guru, saya kecil dihadapannya.

Perjumpaan pertama – kalau layak disebut perjumpaan – adalah saat acara seminar nasional di Jakarta Design Centre sekitar tahun 1996. Terus terang mendengar paparan beliau di acara itu tidak memberi kesan yang mendalam, malah cenderung bingung bagaimana isi paper yang sedianya dibawakan berbeda dengan apa yang beliau sampaikan dalam acara. Yang justru memberikan kesan mendalam adalah bagaimana sikap guru guru saya dalam membantu menghubungi beliau; menerima kehadiran beliau; dan berinteraksi dengan beliau.

Jalan takdirlah yang membuka kesempatan untuk belajar di kampus ITB, dan belajar langsung dari beliau. Tidak jauh berbeda dari situasi di kampus trisakti, aura Pak Slamet pekat membungkus lingkungan kampus. Praktis hanya 3 semester saya berinteraksi secara kolektif – bersama rekan rekan Alur Arsitektur Bentang Alam 99 yang isinya cuma 5 orang – dengan beliau, karena di semester 1 belum ada mata kuliah asuhan beliau. Kenapa kolektif ? Karena saya ga berani ketemu beliau sendirian😀 – aura kursi kebesaran itu masih lekat di ingatan.

Dalam 3 semester itu; saya bisa melihat kepingan kepingan bidang ilmu yang digeluti guru guru saya membentuk sebuah mosaik utuh pada diri Pak Slamet. Yang paling jelas tampak adalah kepingan bidang sejarah yang digeluti oleh Ibu Jusna M. Amin, kepingan bidang perancangan yang digeluti oleh Pak S. Raharjo, kepingan bidang lingkungan yang digeluti Ibu Sri Hartiningsi Purnomohadi (RIP).

Satu kata penting yang masih membekas adalah PENGARUH. Bagaimana segala sesuatu memberi dan menerima pengaruh. Gara gara kata ini, saya membedah Hypnerotomachia Poliphili; dan menemukan pengaruhnya pada banyak hal, termasuk taman taman di masa renaissance.

Satu pemahaman penting yang masih membekas adalah semua (bentukan) desain, sudah pernah dirancang, dipikirkan, dan dibuat oleh pendahulu kita. Jangan pernah berfikir kita membuat sebuah bentuk baru – kita hanya mendaur ulang bentuk dan memberi konteks yang baru.

Satu topik penting yang masih membekas adalah Demokratisasi Taman. Bagaimana beliau memandang bahwa taman harus bisa menjangkau semua lapisan. Bukan kita yang mendatangi taman, tapi taman yang mendatangi kita. Taman tentu tidak bisa mendatangi kita, tapi sebagai arsitek lansekap; kita punya peran untuk membuat taman hadir di mana mana; dalam berbagai wujud manifestasinya.

Saya tidak yakin beliau ingat dengan saya; tapi itu tidak penting; karena lebih penting saya dan kita ingat dengan seluruh jasa, karsa, dan karya beliau.

Selamat jalan Pak Slamet…..

4 November 2016


Doni Fireza

KESAN MENDALAM TERHADAP BAPAK

Mengenal Prof. Ir. Slamet Wirasonjaya, MLA adalah suatu pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Bapak (biasa beliau membahasakan dirinya kepada para muridnya), adalah pribadi yang sangat meninggalkan kesan mendalam dalam hidup saya. Ada tiga periode yang sangat berkesan bagi saya akan Bapak, diluar banyaknya kesan-kesan akan Bapak yang pernah saya dapatkan.

Pertama saat masih menjadi mahasiswa di ITB langsung dibawah bimbingan Bapak. Banyak orang yang menganggap Bapak adalah dosen yang “angker” atau “killer”. Banyak juga mitos yang beredar tentang kegalakan Bapak. Tapi menurut kami (saya dan 4 kawan seangkatan), Bapak itu hanya bersikap disiplin dan konsekwen dengan prinsip dalam kebersahajaannya. Sesuatu yang mungkin tidak banyak dipahami orang lain, karena Bapak memang dikenal tidak banyak bicara yang tidak perlu.

Bapak bahkan seringkali berjalan kaki dari kampus di Jl. Ganesha menuju kantor Arsiplan di Jl. Dipati Ukur. Jarak yang cukup jauh apabila ditempuh berjalan kaki untuk orang seusia Bapak saat itu, apalagi dengan rute yang menanjak. Beberapa kali kami menawarkan mengantar Bapak karena sungkan melihat Bapak berjalan kaki, sementara kami menyetir mobil sendiri. Sekaligus kepingin melihat dari dekat bagaimana cara kerja Bapak sebagai seorang arsitek di kantornya. Dan Bapakpun senang hati menerima ajakan kami.

Hal-hal ini yang ternyata malah menjadikan kami cukup dekat dengan Bapak selama masa studi di Bandung. Suatu hal yang saat itu dianggap tidak lazim karena banyak orang yang cenderung menghindar dari Bapak, sementara kami berlima malahan meminta Bapak untuk menjadi pembimbing thesis kami. Dengan cara ini saya bisa lebih mengenal Bapak lebih dalam, dan menjadi inspirasi saya lewat cerita-cerita dan pengalaman-pengalamannya melanglang buana mengunjungi karya-karya arsitektur di dunia. Sesuatu yang selalu menjadi keinginan saya sampai saat ini.

Berikutnya kesan saya dengan Bapak adalah setelah 6 tahun lulus dari ITB. Saat itu saya sedang menyelesaikan buku pertama saya tentang arsitektur lansekap, dan meminta kesediaan Bapak untuk memberikan pengantar untuk buku tersebut. Diluar dugaan Bapak bersedia dengan senang hati, walaupun proses tersebut dilakukan via e-mail, tapi Bapak sangat menepati janjinya untuk mengirimkan draft naskahnya sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Disaat buku tersebut rampung dan terbit, saya berangkat ke Bandung untuk sowan ke rumah Bapak di Taman Cibeunying untuk memberikan satu exemplar buku tersebut. Begitu diterima, Bapak langsung memegang buku tersebut dan mendekatkan ke kepalanya seakan-akan seperti “menyembah”, yang bisa saya artikan Bapak seperti memuliakan hasil kerja saya tersebut. Bapak berkata, seberapapun sederhana isi suatu buku , tapi kontribusinya terhadap keilmuan sangat besar. Dan ini perlu kita hargai setinggi-tingginya. Suatu kehormatan untuk saya.

Terakhir kesan saya tentang Bapak terjadi awal tahun 2016 ini. Bapak sudah lama pensiun. Saya sudah mengajar di suatu PTS di Jakarta Barat. Dalam tugas matakuliah saya, beberapa mahasiswa ingin mengangkat bahasan tentang Bapak sebagai maestro arsitektur di Indonesia. Saya menawarkan mengantar mereka bertemu dengan Bapak. Bapak merespon dengan senang hati, dan bersedia menerima kami di rumah. Suatu pagi kami berangkat ke Cimahi untuk bertemu Bapak. Sempat nyasar, tetapi Bapak berinisiatif menelpon saya untuk menanyakan sudah sampai mana dan memberikan ancer-ancer jalan ke rumah beliau. Tidak disangka, ternyata Bapak menunggu kami kenapa kok tidak sampai-sampai ke rumahnya.

Di rumah, mahasiswa saya berdialog dengan Bapak dalam suasana yang hangat. Bapak bercerita dan memberikan nasehat dan mengajarkan kami layaknya kakek ke cucu-cucunya. Mahasiswa saya sangat terkesan dengan kebersahajaan Bapak. Mereka sempat menyangka bahwa Bapak adalah figur yang flamboyan layaknya figur-figur arsitek terkenal yang mereka lihat, tapi kenyataannya Bapak sangat sederhana. Banyak pengetahuan yang diberikan kepada kami. Suatu kunjungan singkat yang sangat inspiratif, dan suatu kehormatan yang sangat besar bisa berdialog dengan Bapak dengan suasana yang sangat informal, hangat, dan santai di siang hari yang dingin karena turun hujan di Cimahi.

Mengenal Bapak selama ini adalah suatu kehormatan bagi saya. Dan saya dengan bangga bisa berkata, bahwa saya adalah murid Prof. Slamet Wirasonjaya, seorang arsitek dan arsitek lansekap besar yang Indonesia pernah punya.

Selamat jalan Bapak… Terimakasih atas bimbingan dan inspirasinya selama ini.


 

Dian Heri Sofian

Pertama mengenal sosok Prof Slamet Wirasonjaya adalah ketika masih kuliah di semester 8, mata kuliah pilihan Pengantar Arsitektur Lansekap. Prof. Slamet Wirasonjaya dengan asisten Ibu Ir. RR Dhian Damajani, MT, mengenalkan tentang lansekap, apa, bagaimana, kenapa, sedemikian rupa sehingga memberikan rasa sukacita yang bertambah terhadap bidang ini. Tetapi kesibukan menjelang tugas akhir sempat mengalihkan perhatian dari bidang ini….

Selalu terkenang adalah satu-dua hari menjelang jadwal pertemuan dengan beliau, selalu saling ngecek sudah sejauh mana progres masing2 untuk dipresentasikan di depan beliau. Syukurnya rasa stres menjadikan kami berlima saling mengingatkan akan tugas2 yang memang sudah disepakati di awal perkuliahan untuk dikerjakan. Walau kadang komentarnya bikin nyesek, tapi belakangan terbukti malah membuat kami bersemangat, seolah berlomba satu sama lain untuk memberikan yang terbaik yang bisa dikerjakan.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah, ketika berkesempatan membantu beliau membuat 3D untuk sebuah masjid di Kota Bandung bersama dengan Uda Firmansyah (waktu itu gak mau disebutin namanya karena lagi sibuk ngerjain tugas2 dari Pak Slamet, he he…)… awalnya mendapat sketsa 2 dimensi, dan Pak Slamet meminta mengambil perspektif hanya dari 2 sudut saja, dengan menentukan sudut kamera dan ketinggiannya. Dan ketika sudah jadi, membuat kami berdecak kagum dengan pendekatan desain dan desainnya itu sendiri.

Pak Slamet yang awalnya sangat menyenangi proses desain dengan menggunakan tangan langsung (tidak menggunakan komputer), menjadi orang yang sangat antusias dengan penggunaan teknologi komputer (sebagai alat) setelah terbukti sejauh mana manfaat yang dapat diberikan tanpa menghilangkan kemampuan dan proses desain yang dapat dilakukan. Ada beberapa cerita menarik tentang hal ini dengan Mas Budi Faisal.

Sebagai penasihat IALI, Prof Slamet Wirasonjaya tidak segan2 hadir ketika diundang untuk menyampaikan ceramah terkait keprofesian, baik dalam forum besar, maupun forum yang dihadiri oleh anggota yang tidak banyak… Ketika diundang untuk hadir di kegiatan Dialog Profesi, menginjak usia beliau yang semakin senja, kritik beliau adalah, “Cik atuh bikin acara teh ulah nyusahkeun kolot” (Coba ya, bikin acara jangan bikin susah orang tua).. ya, karena lokasi sekretariat IALI Jabar yang bertangga. Sehingga dalam acara2 berikutnya diadakan di ground floor supaya tidak terlalu menyulitkan Pak Slamet….

Yang juga khas adalah dalam cara menulis beliau, lugas….

Bandung, 04 November 2016….


Inna lillaahi wa inna ilaihi roo’ji’uun… Allaahummaghfirlahu.. warhamhu… wa’afihi… wa’fu’anhu… Selamat jalan Pa Slamet.. insya Allah sadaya elmu nu diajarkeun ku Pa Slamet janten amal jariah anu nyarengan di alam kubur…. mugia ditempatkeun di tempat anu mulia mungguhing Allaah sw.t…. aamiin….

2 thoughts on “Pak Slamet Wirasonjaya, Dalam Kenangan Kami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s