Obrolan di Rapat RW

Undangan mendadak dari Sekretaris RW pekan lalu alhamdulillah dapat dipenuhi, karena memang malam itu tidak sedang ada agenda lain… (dan karena keluarga mengizinkan dan memaklumi pentingnya pertemuan tersebut…)

Salah satu pembicaraan yang menjadi topik hangat adalah masalah lingkungan. Ya, banjir adalah salah satu masalah klasik yang menghinggapi Bandung saat ini. Begitu hujan ‘sedikit’ lebat dan ‘agak’ lama, tidak aneh kalau kemudian cerita tentang banjir ‘cileuncang’ di mana-mana, terutama di Jl Pasteur, dan umumnya di bagian selatan Kota Bandung.

Kembali ke rapat RW kemarin. Para bapak yang hadir di pertemuan tersebut rata-rata ‘mempertanyakan’ bagaimana arahan/rencana/tindakan pemerintah propinsi dan atau pemerintah kota dalam mengantisipasi masalah banjir ini. Dengan latar belakang yang sangat beraneka, pembicaraanpun berkembang ke sana sini.

Salah satu yang menarik adalah bahasan bahwa daerah selatan Kota Bandung, terutama yang dahulunya merupakan sawah, secara geologis adalah daerah yang sudah kedap air, sehingga membuat sumur resapan di kawasan ini dinilai tidak efektif lagi. Kami sama-sama berpikir bahwa daerah utara seharusnya dapat berkontribusi lebih banyak dalam mengurangi dampak banjir ‘cileuncang’ di Bandung ini. Bagaimana tidak, run-off water yang semakin menjadi-jadi karena titik/area resapan air yang semakin berkurang membuat beban drainase menjadi semakin berat. Air yang mengalir di saluran-saluran menjadi semakin banyak dan semakin lancar.

Dalam ‘bincang-bincang’ malam itu, kami sepakat (ya, sepakat untuk sama-sama memahami) bahwa menyelesaikan masalah Bandung Selatan tidak cukup diselesaikan di Bandung Selatan saja, tapi juga harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, yaitu cekungan Bandung. Sumur-sumur dan kolam resapan yang dibuat di Kawasan Bandung Utara seharusnya dapat mengurangi kiriman aliran air permukaan (run-off water). Demikian juga seandainya dibuat cek dam dan atau sistem drainase sedemikian rupa sehingga mengurangi kecepatan aliran air, maka sedikit banyak, secara bersama-sama dengan upaya lainnya, tentu akan berpengaruh dalam mengurangi potensi bencana banjir di kota yang berada di dataran tinggi ini.

Penasaran dengan bincang-bincang waktu itu, tadi pagi saya berkesempatan mengunjungi salah satu bagian dari Kawasan Bandung Utara. Dan rupanya memang seperti itulah kondisinya. Lahan di daerah dengan ketinggian lebih dari 850 meter dpl ini sudah sedemikian terbuka, kalau bukan untuk hunian/perumahan, fungsi utamanya adalah untuk lahan pertanian palawija, yang sebagian dari mereka adalah penyewa tanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s