Mudik Lebaran 1431 H

Ya, mudik lebaran sepertinya suatu kegiatan yang betul-betul ditunggu-tunggu oleh sebagian besar muslimin di Indonesia.

Mudik bisa dimaknai sangat berbeda-beda, dari yang sekalian melepas rindu kepada orangtua, bersilaturrahim dengan keluarga besar, ada yang dimaknai sebagai ajang untuk sekalian menunjukkan keberhasilan perjalanan kehidupannya selama ini… Dan kita tidak akan pernah tahu karena itu adalah urusan hati… Yang bisa dicatat adalah bahwa kegiatan mudik adalah kesempatan bertemu dengan banyak orang, kesempatan untuk bisa belajar banyak, kesempatan untuk dapat lebih banyak berbagi, dan berbagai kesempatan lainnya yang berkonotasi positif…

“Bi, mudik itu artinya menuju udik ya? Kalau gitu, di kota besar seperti Jakarta itu banyak orang udiknya?” ha ha ha… begitu kira-kira pertanyaan salah seorang anak saya…

Lebaran tahun ini (1431 H) alhamdulillah kami sekeluarga ditakdirkan Allah swt untuk mudik ke Jambi, kota tempat mertua dan beberapa saudara istri tinggal. Ya, kami usahakan untuk dapat berlebaran secara bergiliran. Kalau tahun ini di keluarga istri, maka tahun berikutnya giliran di keluarga saya, begitu seterusnya, insya Allah….

Dengan berbagai pertimbangan, kami putuskan lebaran kali ini melalui jalan darat, menggunakan kendaraan keluarga supaya leluasa dengan bawaan kami, dan leluasa dengan jadwal perjalanan.

Seperti mudik sebelumnya, pengkondisian anak-anak sudah dimulai 2 minggu menjelang keberangkatan. Menurut saya ini penting, karena dengan demikian, anak-anak menjadi bersemangat untuk menjalani perjalanan panjang ini (Bandung – Jambi sekitar 1.050 km). Kami berdiskusi tentang rencana ini, jadwal berangkat dari Bandung apakah pagi, siang atau malam, apakah langsung ke Jambi atau menginap di Lampung dan atau Palembang, dst.

Bagi saya sendiri, salah satu tools yang sangat diperlukan adalah alat bantu navigasi (GPS). Kebetulan GPS kantor yang saya pinjam setelah saya periksa ternyata peta-nya sudah berganti, sehingga tidak ada peta sumatera-nya. Alhasil sayapun mencoba mencari sumber peta lain. Karena keterbatasan pengetahuan, dan keinginpraktisan saya, akhirnya saya googling via mobile internet (males ke warnet, males buka2 komputer). Alhamdulillah ada beberapa blog yang menunjukkan cara memasukkan peta ke dalam mobile GPS (kebetulan di HP saya sudah terinstall mobile gps). Akhirnya sayapun terarahkan ke www.navigasi.net dan mengunduh peta di situ, dan dengan tutorial yang diperoleh dari beberapa blog, akhirnya terinstall-lah peta baru di hape saya. SubhanAllah datanya cukup informatif dan lengkap. Dengan informasi dari peta tersebut, ketika indikator bbm menunjukkan setengah, saya tidak khawatir lagi karena tahu masih ada spbu dalam jarak dekat di depan….

Rupanya Allah swt memperlihatkan kuasa-Nya. Seminggu menjelang jadwal keberangkatan, ketiga anak saya terkena sakit batuk, dan juga panas secara bergiliran. Karena khawatir, kami akhirnya membawa si bungsu tes darah, untuk meyakinkan apakah ada penyakit yang berbahaya atau karena flu saja. Setelah mendapat kepastian bahwa tidak ada penyakit yang membahayakan, akhirnya kami putuskan untuk tetap berangkat.

Karena kondisi saya yang juga kurang sehat, rencana berangkat Minggu malam akhirnya digeser menjadi Hari Senin pagi. Pukul 06.05 kamipun memasuki gerbang tol Buahbatu. Singkat kata, kira-kira pukul 11.00 kami tiba di pelabuhan Merak. Kamipun membeli tiket seharga Rp 198.000 (uang yang kami bayar sama dengan nominal yang tertera di tiket). SubhanAllah, dari lokasi pembelian tiket tersebut kami dapat langsung naik kapal, dan sekitar 10 menit kemudian kapal ferry kamipun berangkat menuju Bakauheni…

Menjelang asar, karena kondisi fisik yang terasa berat, saya putuskan untuk mencari hotel di Bandar Lampung, dan alhamdulillah masih mendapatkan dua kamar kosong. Maghrib kami putuskan untuk makan di satu tempat makan franchise di seberang hotel, sambil mengamati perilaku orang-orang yang makan di situ.

Acara malam diisi dengan menerima kunjungan kawan lama waktu di SMA yang kebetulan bekerja dan tinggal di Bandar Lampung. Terima kasih untuk Dasep beserta istri, dan Fisky yang sudah menyediakan waktunya untuk bisa bertemu walaupun tidak bisa lama. Banyak pengalaman yang bisa saya dapatkan dari cerita Dasep dan Fisky…

Selasa pagi, kami berangkat pukul 06.00, setelah sarapan pagi diganti sahur di kamar masing-masing. Perjalanan Lampung menuju Palembang sekalian digunakan untuk memperkenalkan Kota Bandar Lampung ke anak-anak. Rupanya mereka lebih memilih memanfaatkan fasilitas berbuka puasa karena sebagai musafir diperbolehkan untuk berbuka..

Tibalah waktu dhuhur, dan kami putuskan untuk sholat di salah satu spbu yang ternyata berjarak sekitar 5 menit dari Rumah Makan Pagi Sore dekat Danau Teluk Gelam, beberapa menit sebelum memasuki Kota Kayu Agung… Karena area parkir dekat musholla sudah terisi, maka saya memarkir kendaraan di posisi ‘paling luar’, paling dekat dengan jalan raya…

Ketika parkir, terlihat ada satu mobil dengan plat nomor berawalan “D” yang berarti berasal dari daerah Priangan (Bandung dsk). Selesai sholat, sopir mobil tersebut menyapa saya, bertanya ke mana tujuan saya, dan mengajak konvoi karena mobilnya menuju Medan, dan berrencana istirahat di Jambi. Singkat kata, karena bapak tersebut terlihat masih agak lama istirahatnya, saya sampaikan bahwa saya akan pergi lebih dulu dari dia. Akan tetapi kami terkaget2 ketika mendapati kaca jendela sopir sudah pecah dan pecahannya berantakan ada di dalam jok depan….

Wah, betul2 kaget saya, apalagi putri saya, Nada yang langsung berteriak spontan…. Mendapati kaca pecah seperti itu, saya hanya berpikir, apa tadi selama jalan saya sempat menyenggol orang atau membuat orang celaka sehingga dia marah dan memecahkan kaca mobil saya? sambil membersihkan kaca, sayapun beristighfar, memohon ampun seandainya saya melakukan hal tersebut… Tiba-tiba anak saya teriak, “Bi, tas pinggang abi mana?” Deg! kontan saya ingat tas laptop yang ditinggal di mobil… Alhamdulillah tas laptop masih aman di jok belakang, karena memang tertutup berbagai barang lain…

Setelah bersih2 pecahan kaca, kamipun meneruskan perjalanan, setelah sebelumnya melaporkan kejadian tersebut ke pengelola SPBU. Saya sampaikan bahwa ini supaya menjadi perhatian, sehingga tidak ada orang yang mengalami hal yang sama…

Perjalanan ke Palembang diiringi suara “kelepakan” plastik penutup kaca darurat. Karena itu, kamipun memutuskan untuk menginap lagi di Palembang karena mobil harus diperbaiki dulu. Sayangnya bengkel resmi sudah mau tutup, dan disuruh kembali keesokan paginya. SubhanAllah, Allah swt memberikan kami kemudahan lagi. Kami mendapatkan penginapan gratis di Palembang, di rumah salah seorang kenalan kami, dan mobil yang bolong tersebut dapat disimpan dengan aman.

Rabu pagi, ketika kendaraan sedang diperbaiki, adik kami tiba menjemput kami dan mengantar jalan-jalan keliling Kota Palembang. Pasar 16 Ilir menjadi tujuan untuk mencari selembar kain songket….

Pukul 10.30, ditelpon oleh bengkel, diinformasikan bahwa kaca sudah selesai diganti, dan pukul 11.00 kamipun bisa meneruskan perjalanan ke Kota Jambi, dan kami tiba di Jambi sekitar pukul 17-an…

Kegiatan di Kota Jambi diisi melepas kangen dengan orang tua, silaturahim dengan famili yang juga berdatangan, jalan ke sana ke sini, melihat jembatan Batang Hari II, wisata kuliner (tentunya dong…), dan alhamdulillah masih dapat bertemu dengan kawan (tepatnya mantan mahasiswa waktu sy masih menjadi dosen luar biasa di salah satu perguruan tinggi teknologi negeri di Bandung). Diajaknya saya melihat lahan di tepi Danau Sipin, sambil bercerita tentang berbagai kegiatan pembangunan di Kota Jambi…

Sholat Ied saya ikuti di “Masjid Seribu Tiang”….

(bersambung…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s