First Trip to Wamena.. (cont..)

Rupanya hotel-hotel di Wamena saat itu sudah penuh dipesan oleh tamu, terutama sehubungan kegiatan Festival Lembah Baliem, yang merupakan agenda tahunan Wamena. Beruntung kami masih mendapat kamar di Hotel Wamena di daerah Hom-hom, tidak begitu jauh dari Bandara. Lumayanlah untuk kondisi seperti itu. Tanpa AC karena memang daerahnya dingin sekali, dan tidak terlalu ramai karena pada umumnya memang Wamena tidak terlalu ramai. Tiba di hotel disambut sayup-sayup suara adzan penanda waktu asar telah tiba. SubhanAllah, terharu mendengarnya…

Setelah beristirahat sejenak, beres-beres, kamipun berkumpul untuk membahas agenda kegiatan selama di Wamena. Setelah selesai, masing-masing kembali ke kamar untuk sekedar beristirahat setelah perjalanan panjang dari Bandung sampai Wamena. Saking capeknya, baru terbangun menjelang pukul 20.00 dan menikmati santap malam bersama tanpa lepas jaket tebal dan minuman hangat.


Ada satu rahasia supaya tidak terlalu kedinginan di Wamena, yaitu memaksakan diri mandi dengan air dingin. Terbukti tubuh menjadi sedikit lebih kuat setelah mandi air dingin, tanpa harus berjaket tebal ria ke luar ruangan.

Setelah agenda pekerjaan selesai, kebetulan Hari Selasa masih ada waktu longgar sebelum kembali ke Jayapura, kami menyempatkan diri pergi ke Ku-Rulu, lokasi tempat Festival Lembah Baliem diadakan. Rupanya lumayan jauh juga dari kotanya. Perjalanan lebih dari setengah jam kami tempuh sebelum akhirnya tiba di lapangan. Acara yang dimulai Hari Senin tersebut terutama menampilkan berbagai kegiatan keseharian suku-suku yang ada di Kawasan Lembah Baliem. Atraksi terjun payung atlet nasional asal Wamena dari salah satu tebing menarik antusiasme pengunjung yang mayoritas adalah warga setempat. Mereka berebutan mendekati titik pendaratan sambil bersuara riuh rendah.

Rupanya kegiatan festival ini ‘dijual’ di luar negeri. Terlihat tidak sedikit turis asing yang duduk di tribun maupun di tengah lapang, mengikuti acara yang memang disediakan panitia untuk mereka, sehingga mereka merasa terlibat dalam festival ini, tidak sekedar menonton. Kami, turis lokal gratisan yang berdiri di dekat mereka sempat diminta dengan hormat untuk memisahkan diri dari kelompok turis asing ini (padahal tidak ada arahan di mana pengunjung harus dan boleh berdiri).

Bahkan kabarnya ada beberapa turis yang memutuskan untuk memasang tenda di lokasi festival karena tidak mendapat kamar di hotel.

Ada beberap atraksi yang sempat kami saksikan. Dan berada diantara para koteka-ers (ini sih bahasa saya sendiri) membuat saya sedikit risih. Ya, risih karena saya menggunakan jaket tebal masih merasa kedinginan sementara mereka hanya mengenakan koteka biasa-biasa saja, kedua risih karena melihat kondisi mereka yang tidak mengenakan busana seperti layaknya orang-orang yang sering dijumpai di berbagai tempat lainnya.

Ada beberapa pemandangan yang cukup lucu, bagaimana para bapak yang mengenakan koteka tadi, karena tidak membawa kantong terpaksa harus ‘mengikatkan’ kantong plastik berisi rokok di bagian belakang. Sambil malu-malu akhirnya saya ambil beberapa potret dengan mereka, dan sempat merekam video kegiatan ‘perang-perangan’ mereka.

(bersambung)….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s