Nilai-Nilai yang Hilang…

Tulisan ini terilhami oleh kejadian waktu saya bersama dengan seorang rekan mendatangi suatu acara pesta pernikahan di Bandung…

Waktu itu kami sedang menunggu kedua mempelai dan orang tua (yang mengundang saya) yang belum keluar dari tempat berganti pakaian. Untuk memanfaatkan waktu, saya dan rekan saya ikut antrian baso tahu goreng (batagor) di salah satu stand makanan di sana. Karena antrian cukup panjang, kira-kira 10 menit kami baru dapat mendekati meja tersebut. Karena datang berdua, di sela-sela mengantri tersebut saya berbincang dengan kawan saya yang ada di belakang. Sesekali saya harus menghadapkan wajah ke arah rekan saya tadi…

Sekonyong-konyong.. saya terheran-heran, ketika mendapati orang yang berdiri di hadapan saya kok warna bajunya berubah, tadinya berwarna kuning menjadi abu-abu… selidik punya selidik, rupanya ada orang yang saking tidak kuat menahan laparnya, sampai-sampai kuat menahan malu dengan nyelip antrian dengan muka polos, tanpa basa basi memotong kami yang sudah lebih lama mengantri… Lebih parah lagi, dia mengajak istrinya serta… )*$%&)#*%&)#%&)#%&#%…

Tiada ucapan sepatah katapun dari orang tersebut, mungkin dia betul-betul kelaparan ya? walaupun dari dandanannya terlihat perlente, dari wajahnya terlihat orang yang berpendidikan, dari gadget yang dibawanya terlihat sepertinya orang berada, tapi kok begitu ya? Kalau dia aja seperti itu, sungguh sangat wajar apabila beberapa anak bangsa ini, yang kurang beruntung, rela mengantri untuk dapat menuntaskan harapannya mendapat sedikit uang sedekah di mana-mana….

Teringat lagi pengalaman beberapa kali jadwal keberangkatan pesawat mengalami delay, tidak ada sepatah katapun permintaan maaf baik dari pramugari, bahkan dari sang kapten pesawat sekalipun… jangan harap ada kompensasi dari keterlambatan tersebut… (jadi inget perilaku salah seorang tokoh wanita dalam serial Bajay Bajuri, dia selalu memulai bicara dengan mengatakan, “maaf, ……”)

Perjalanan kembali dari Balikpapan kemaren, kami dibuat menunggu lebih dari 20 menit, gara-gara ada 4 (empat) orang bapak yang sudah check in tapi terlambat boarding. Ketika akhirnya mereka naik pesawat, dan kebetulan duduk di sebelah saya, tidak terucap sepatah katapun, atau bahkan terlihat raut muka penyesalan karena membuat sekian ratus orang menunggu mereka berempat…

Oh ya, satu lagi, ketika pesawat tadi hampir mendarat, saya dapati seorang wanita asyik ber-sms ria. Saya kira cuma sekali saja dia ber-sms, saya perhatikan, asyik saja terus dia melakukan itu. Akhirnya saya tegur supaya mematikan handphone-nya. Ajaib! sungguh ajaib!, tidak ada sepatah katapun terucap dari mulutnya, bahkan raut mukanya pun tidak berubah! lempeng bin cuek….

Muncul pertanyaan dalam benak saya, apa memang sudah sedemikian hilang nilai-nilai yang selama ini ditanamkan dalam diri bangsa ini? Bagaimana sih para orangtua mendidik putra putri mereka selama ini? Sungguh menyedihkan… apalah jadinya bangsa yang katanya ramah ini kelak?

……………… sad sad sad sad ……………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s