Perjalan ke Teluk Wondama (3?)

…….tulisan ini terutama didedikasikan bagi mereka yang hendak bepergian ke wilayah Papua dan belum memiliki informasi yang cukup mengenai kondisi transportasi di kawasan ini…. semoga membantu…

Kapal Labobar yang seharusnya masuk Pelabuhan Jayapura Hari Jumat 12 Juni pukul 11.00 ternyata baru tiba pukul 16.00, dan direncanakan berangkat pukul 13.00 akhirnya direschedule berangkat pukul 20.00 dan jadinya berangkat juga pukul 23.00 WIT. Saya yang sudah check out dari hotel, akhirnya extend setengah hari karena tidak mungkin saya bengong di pelabuhan untuk sesuatu yang tidak pasti…. Di hotel saya berbincang-bincang dengan seorang Bapak, yang rupanya hendak berangkat ke Nabire dengan kapal yang sama. Kami sama-sama mengatakan, “Semoga kita bisa bertemu lagi Pa…”

Selepas maghrib saya sudah standby di pelabuhan bersama ratusan, bahkan mungkin ribuan orang calon penumpang lainnya… Setelah melalui prosesi boarding, saya tidak kesulitan menemukan kamar 6024 di dek 6, berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan Kapal Ngapulu dari Wasior ke Jayapura.

fyi, kalau tidak salah ada 4 kelas tiket, yaitu kelas ekonomi, kelas wisata, kelas 1b, dan kelas 1a. Mempertimbangkan satu dan lain hal, saya ambil tiket kelas 1b seharga Rp 550.000,00 yang dibeli di salah satu loket penjual tiket PELNI di Kota Jayapura, dekat dengan hotel tempat saya menginap, tiga hari sebelum keberangkatan.

Satu kamar berisi 4 orang, ya tentunya dengan empat bed, empat locker, dan 1 kamar mandi lengkap di dalam, meja kerja, dan satu unit pesawat televisi. Ruang ber-AC ukuran 2,5 x 5 meter tersebut cukup nyaman untuk perjalanan selama 30 jam. Dan karena berada dekat dengan titik setimbang kapal, dan ukuran kapal yang cukup besar, maka hantaman ombak tidak begitu terasa.

Di luar dugaan, begitu saya sampai di kamar, rupanya Bapak yang tadi bertemu di lobby hotel juga berada di kamar yang sama, sehingga spontan kami sama-sama ‘berteriak’, “Ah, rupanya kita bertemu lagi!” (salam untuk Pak Decky Kayame, Kepala Dinas Perhubungan Kab. Nabire….).

Lebih malam lagi, masuklah seorang Bapak lainnya, yang rupanya beliau adalah supporter sejati Persipura, yang sengaja datang ke Jayapura bersama sekian banyak orang supporter lainnya dari Manokwari hanya untuk menyaksikan petandingan Persipura vs Sriwijaya FC tempo hari. Banyak ceritanya yang menggambarkan betapa Pesipura menjadi kebanggan orang Papua, tidak hanya warga Jayapura, bahkan sampai kota-kota lain juga.

Di dalam kamar, ada juga Pak Robi, yang bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai, yang rupanya adalah saudara Pak Decky.

Sepanjang siang dan malam, ketika kegiatan di luar tidak lagi menjadi menarik, atau karena tiupan angin terlalu kuat, kami asyik bercerita pengalaman masing-masing. Yang terlihat asyik dengan kegiatannya adalah Pak Robi ini, hampir sepanjang perjalanan beliau sibuk menulis di notebooknya. Terlihat beliau familiar sekali dengan laptop dan modem hapenya. Ketika saya cerita bahwa pengalaman-pengalaman saya dituliskan di blog ini, beliau tertarik untuk berkunjung suatu saat….

Yang menarik adalah ketika beliau sampaikan tentang betapa besar rasa syukurnya karena beliau berada di lingkungan keluarga dengan seorang ayah yang sangat mengutamakan pendidikan, sehingga ketika putra-putrinya beranjak dewasa, semua sukses dengan pekerjaannya. Beliau bercerita bagaimana sikap ayahandanya ketika beliau pulang kampung, berlibur dari kuliah, bagaimana ketika mereka sudah menduduki jabatan tertentu, sementara sebagian kawan-kawannya sampai saat ini ada yang masih hidup menggunakan koteka…

Tentang Kapal Labobar, saya bisa cerita tentang mushollanya yang bersih, AC-nya yang dingin, air wudhu yang tersedia dengan lancar, dan tentunya dengan penunjuk arah qiblat yang bisa diputar-putar, dan juga kain yang dapat dipindah-pindah sesuai arah qiblat tadi… Ruang makan yang terletak dekat sekali dengan kamar saya memungkinkan saya beberapa kali menjadi pengunjung pertama tempat tersebut (mode rewog: on).

(bersambung…)

2 thoughts on “Perjalan ke Teluk Wondama (3?)

  1. hal yang paling menyenangkan…saat solat zuhur di atas labobar dan hal yang paling menyedihkan disaat dompet saya hilang diatas labobar….terimakasih…. kang. salam dari wasior

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s