Seminggu di Jayapura, Papua

Hari ke- lima di Jayapura, semakin lama semakin banyak yang bisa dilihat dan dipelajari dari kota ini.

Pertama, perilaku berlalu lintas yang masih bisa terlihat adalah ketika ada pejalan kaki yang akan menyeberang di jalur penyeberangan (zebra cross), maka kendaraan (terutama mobil) akan otomatis memberi jalan. Rupanya kebiasaan yang sangat mengesankan bagi saya pribadi ini masih bertahan, setidaknya sejak saya saksikan waktu pertama kali berkunjung ke kota ini tahun 1994.

Kedua, suasana sukaria yang terasa tumpah ruah di pojok-pojok kota dan jalan-jalan menjelang pertandingan sepakbola antara Persipura melawan Sriwijaya hari Rabu 10 Juni 09 sore ini. Pesan seorang kawan yang mengatakan, “Pak, nanti hari Rabu sebaiknya kalau mau keluar pakai ojek saja, karena jalan akan macet dipenuhi orang yang akan menonton sepakbola” Di tepi2 jalan, yang dibicarakan orang adalah Persipura dan sponsornya. Tidak hanya bapak-bapak, tapi juga beberapa ibu terlihat asyik membahas pertandingan. “Penontong su siap dari jam 12, padahal maing jam tiga sore” kata sang Ibu. “Iye (logatnya beda dg ‘iye-nya’ betawi), apalagi nanti supporter mungking dorang pulang subuh”. Luar biasa antusiasme masyarakat kota ini, semangat yang kelihatannya tertular ke para pemainnya sehingga berambisi mengakhiri pertandingan dengan kemenangan. Ketika sedang pesan makanan, terlihat yang antri di depan saya sedang membeli makanan berat dan minuman sebanyak 3 – 4 porsi, dengan kaos dan topi khas Persipura, merah-hitam. Ya, mungkin mirip dengan suasana menjelang bertandingnya Persib di Bandung. Cuma yang saya lihat semangat itu di sini dimiliki oleh lapisan masyarakat yang lebih luas, tua muda, laki-laki perempuan.

Setting kota berada di lembah pantai memberikan pemandangan yang khas. Dan rupanya rentang waktu 15 tahun merupakan waktu yang lama bagi Jayapura untuk berubah.

Souvenir center di daerah Hamadi, sekarang tidak terlalu terasa sebagai kawasan yang khas, karena toko-toko souvenir hanya tinggal sedikit, dikelilingi toko lain yang menjual berbagai komoditas kebutuhan sehari-hari.

Satu hal lagi, lebih mudah menemukan tempat ber-wi fi daripada warnet. Ketika wireless network di-on-kan, banyak access point terdetek. Hanya sayang, ketika sengaja berkunjung ke Ex*****, sebuah cafe waralaba kopi, dengan harapan dapat menikmati kopi sambil cek email, blogging, saya harus pulang dengan kecewa karena tidak dapat terkoneksi. Alhasil, kembali ke gadget andalan, hape… Ya sudah, siap-siap nonton Persipura dah di TV. Ayo Persib! Lho kok?

Jayapura, 10 Juni 09, 14.20, 2 jam 40 menit menjelang Persipura vs Sriwijaya FC.

abi 2352

2 thoughts on “Seminggu di Jayapura, Papua

  1. Di cafe pun nggak ada koneksi? Di Jawa, angkringanpun udah ada yang wifi. sedih memang lihat kenyataan perbedaan yang jauh antara Bagian Barat dan Timur.

    1. Tapi masih untung sekarang di pedalamanpun ada gprs, at least bisa kirim/terima data tanpa tergantung warnet yang biasanya malah jauh lebih lelet…. tks..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s