Hikmah dari Tanaman

“… semoga Allah senantiasa memberikan ilham kepada kita untuk dapat selalu merasakan nikmat-Nya kepada kita… Tulisan ini diilhami oleh kebiasan almarhum nenek saya, Ni Ooh, di Ciamis yang begitu memperhatikan tanamannya supaya tumbuh subur di halaman rumahnya yang tidak seberapa luas… Semoga Allah swt merahmati beliau… “

—–

Ketika saya masih kecil, seringkali terheran-heran memperhatikan salah seorang nenek saya (tantenya ibu) di Ciamis yang begitu rajin menyirami tanaman di halaman rumahnya, terutama yang namanya Kuping Gajah. Tidak mempedulikan apa kata tetangga dan atau saudaranya, kebiasaan itu terus dilakukannya sampai menjelang tutup usianya.

Dalam masa kuliah, setiap kali pulang ke rumah orang tua, malam hari yang saya lakukan adalah menikmati saat-saat berdiam diri di teras rumah yang dihiasi beraneka ragam tanaman. Bukan tanaman yang dikenal mewah, tapi jenisnya yang beraneka bentuk dan warna memberikan ‘rasa’ dan kesan ruang tersendiri di tengah temaram sinar lampu teras kami. Kadang ketika saya tahu bahwa sore harinya orang tua saya tidak sempat menyirami tanaman, malam-malam itu saya dengan senang hati menyirami mereka. Pagi hari bangun dengan segar membuka pintu depan rumah untuk menghirup udara segar Kota Ciamis yang masih jauh dari polusi udara.

Tinggal di daerah yang penuh dengan keramaian di Kota Bandung, dengan segala dinamika aktifitas warganya, udara yang begitu adanya. Dalam satu rentang waktu ketika saya dan istri mencoba membiasakan merawat tanaman, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa saya bukan orang yang tepat untuk merawat tanaman, berbeda dengan kedua orang tua saya, terutama ayah. Tanaman mereka tumbuh subur, sementara tanaman yang saya pelihara seringkali tidak memperlihatkan pertumbuhan yang menggembirakan.

Beberapa tahun saya tidak berani memelihara tanaman, salah satunya karena pemikiran (yang belakangan saya sadari itu salah) bahwa saya tidak bisa memelihara tanaman….

Hingga suatu waktu, saya teringat akan salah satu ayat suci Al Qur’an yang menyatakan bahwa sesungguhnya bukan kita (manusia) yang menyebabkan mereka (tanaman) itu tumbuh, tapi adalah Allah swt dengan kekuasaannya, melalui proses alamiah, dengan penuh kasih sayang yang membuat semua tanaman di muka bumi ini bisa tumbuh. Air hujan merupakan sarana pertumbuhan semua itu.

Dengan berpegang pada prinsip dari ayat tersebut, saya coba merubah pemikiran dan pemahaman tentang relasi saya dan tanaman. Bersepakat dengan istri, kami coba perlakukan tanaman itu sebagai amanah dari Allah swt, yang perlu dipelihara dengan kasih sayang (secara proporsional tentunya). Ketika kesempatan menyirami tanaman kami, saya senantiasa kembalikan kepada Allah swt dengan pujian ketika melihat ada satu atau beberapa calon daun baru memperlihatkan ujungnya. Dan ketika rasa kagum, haru, dan senang tersebut dikembalikan kepada Sang Pemilik, subhanAllah, kelihatannya tanaman kami semakin bertambah baik tumbuhnya…

Mungkin pemahaman ini yang dulu tertanam dengan kuat di benak almarhumah…. wallahu a’lam….

4 thoughts on “Hikmah dari Tanaman

  1. Salam,

    Sebetulnya, ayat-ayat itu sangat bersinergi dengan issue dunia saat ini, “Go Green the World”.
    He3…
    Subhanalloh, mungkin demikian-lah yang tersirat dalam ayat itu ya kang?

    Cheers,
    YH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s