Perjalanan ke Teluk Wondama

Bagi saya, perjalanan ke Papua selalu menyisakan kesan tersendiri. Pengalaman-pengalaman selama perjalanan dan selama di sana begitu berbekas, yang baik dan yang kurang baik.

Pernah suatu ketika, dalam perjalanan ke Merauke, selama transit dan duduk dengan beberapa bapak yang asyik diskusi tentang bagaimana dauh dan melelahkannya perjalanan ke Jayapura, transitnya lama, terbangnya juga lama, gak kebayang di sana seperti apa, dll. Dalam hati saya bilang, “Baru ke Jayapura, sudah berkeluh kesah seperti itu, bagaimana kalau ditugaskan ke pedalaman Papua?” he he… sok tahu ya…?

Perjalanan ke Teluk Wondama yang terakhir, bulan Oktober lalu meninggalkan cerita yang tidak kalah seru…

Ketika kami (saya dan seorang kawan) tiba di tempat pengambilan bagasi di Bandara, saya cukup dikejutkan ketika Bang Mody, seorang sopir kijang carteran manggil saya. Saya cukup surprised sebab terakhir kami bertemu satu tahun sebelumnya, itu pun hanya beberapa hari saja, dia antar rombongan ke sana sini. Karena saya belum menemukana bagasi kami, saya minta dia nunggu kami keluar.

Sekitar setengah jam berlalu, kami masih belum berhasil menemukan bagasi kami, padahal orang lain sudah banyak yang meninggalkan tempat. Akhrinya, setelah bagasi terakhir diambil orang, dan kami tidak menemukan bagasi kami, kami tanyakan kepada petugas, Pak Romli (kl tidak salah) yang terlihat capek penuh dengan keringat. Singkat kata, kesimpulannya adalah bahwa karena kesalahan ground crew di Bandara Soekarno Hatta, bagasi kami diturunkan di Sorong, bandara terakhir sebelum kami turun di Manokwari. Saya bilang kesalahan ground crew di bandara CGK, karena jelas-jelas di tiket tujuan kami adalah Manokwari, sedangkan tag bagasi kami Sorong.

Terus terang, awalnya kami ingin sekali melampiaskan kemarahan, akan tetapi, melihat para petugas yang terlihat lelah, tapi tetap berusaha sabar melayani kami, akhirnya kemarahan itu tidak muncul. Setelah bertukar nomor telepon karena dia janji untuk menghubungi kami jika bagasi kami ditemukan, kami menuju luar ruangan.

“Ah, bapak mau ke Wasior toh? Nanti malam ada kapal berangkat.” seorang Bapak menyapa kami dengan ramah. Mungkin karena melihat bungkusan paket yang kami bawa bertuliskan Wasior, ibukota Kabupaten Teluk Wondama. Belakangan akhirnya kami banyak dibantu oleh beliau dalam urusan kami di sana. Alhamdulillah.

Bang Mody mengantar kami keliling Kota Manokwari, beli tiket Pelni, makan coto makasar yang enak, sebelum akhirnya menunjukkan kami ke penginapan yang berdekatan dengan pelabuhan. “Supaya kalau kapal datang bisa langsung jalan kaki ke pelabuhan.” katanya menjelaskan kenapa memilih hotel tersebut.

Sore harinya kami sempatkan belanja pakaian di satu-satunya mall yang ada di Manokwari. Kadang kalau dipikir, lucu juga orang Bandung kok belanja baju di Manokwari. Mau bagaimana lagi, karena tidak ada perlengkapan maka harus ada penggantinya.

Tengah malam saya terbangun. Melihat dari jendela kamar, di arah pelabuhan terlihat banyak sekali lampu bersinar. Setelah diamati, ternyata itu adalah kerlap kerlip lampu dari Kapal Labobar yang telah tiba di pelabuhan dan siap untuk berangkat menuju Wasior. Kamipun segera bersiap. Dengan berjalan kaki kami menuju pelabuhan setelah urusan dengan hotel diselesaikan.

Tiket yang kami miliki adalah kelas ekonomi seharga Rp 50.000,00. Dengan optimis kami naik ke dalam kapal melalui antrian yang cukup panjang dan berdesak-desakan. Kami sangat kaget ketika sudah di dalam kapal, kebingunan mencari tempat untuk duduk. Maklumlah, kelas ekonomi nasibnya tidak jelas..

“Ada kamar kosongkah?” saya bertanya kepada salah seorang ABK berseragam putih-putih yang sedang berdiri di tangga…

“Ah, bapak perlu kamarkah?” dia balik bertanya….

Dengan mengeluarkan enam lembar uang seratus ribu, akhirnya kami mendapatkan fasilitas kamar ber-AC dengan dua bed, lengkap dengan televisi dan kamar mandi di dalam kamar. Uang sebanyak itu untuk mendapatkan fasilitas kamar selama 6 jam perjalanan dari Manokwari menuju Wasior.

(bersambung….)

9 thoughts on “Perjalanan ke Teluk Wondama

  1. nuhun kang, tulisan yang bagus dan bermanfaat banget… aku sekarang sedang menuju ke teluk wondama, tulisan akang sangat membantu perjalanan sendiri saya saat ini. alhamdulillah….Terimakasih

    untuk silaturahmi

    twitter : @gilang8R
    fb : gilang rausin bin marjuki ( ftw_selalu_dihati@yahoo.co.id )

  2. kang dian mani resep baca perjalanan kang dian, sabada baca perjalanan mas agus di kompas teras mampir ka blog kang dian ….
    diantos cerita perjalanan sanesna…

  3. Saya mau ke Teluk Wondama, ada tugas ke kabupatennya, tp belum tahu rutenya. Mungkin bpk bisa membantu sy ada contact person hp org2 Tlk Wondama. Sy di 08129610867. Hatur nuhun pisan (IWAN)

    —–
    Tks Kang Iwan dah mampir. Jawabannya saya post berupa tulisan baru, berjudul
    “Perjalanan ke Teluk Wondama (sambungan)”
    Kalau ada yang masih kurang, jangan sungkan kirim komentar ya…
    Semoga membantu…
    Btw, dinas di mana Kang? …(admin)

    1. iya, 50 rebu buat naik kapalnya.. buat sewa kamar mah lain lagi, da itu mah masuknya ke kas pembangunan jangka imah, he he….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s