Bawa Mobil, Motor, atau Naik Angkot? sebuah pilihan…

Assalamu’alalikum wr wb…

Mungkin bagi sebagian orang, naik motor adalah keterpaksaan. Terpaksa? Ya, karena ini adalah moda transportasi yang murah yang bisa dipilihnya. Bagaimana tidak, dengan DP ‘hanya’ Rp 500.000, sudah bisa membawa pulang satu unit kendaraan roda dua tersebut. Bahkan untuk beberapa kondisi bisa jauh lebih ringan lagi.

Mungkin juga, bagi sebagian orang, naik angkot adalah keterpaksaan. Terpaksa? Ya, karena adanya keterbatasan fisik yang tidak memungkinkan untuk bersentuhan terus menerus dengan angin, terutama angin malam. Walaupun dengan resiko biaya transportasi yang lebih mahal, tapi pilihan ini harus diambil. Bagaimana tidak, untuk jurusan Cibiru – Ledeng (jarak sekitar 25 km) pada tahun 1997 cukup dengan uang Rp 2.500,00, sekarang tidak kurang dari Rp 8.000,00 harus dikeluarkan. Apalagi mereka yang terpaksa harus naik-turun angkot karena jalurnya yang mengharuskan begitu…

Mungkin juga, bagi sebagian orang, membawa kendaraan sendiri adalah sebuah pilihan yang harus diambil. Mungkin karena kebutuhan mobilitas yang tinggai dengan keharusan membawa berbagai benda yang tidak mungkin dilakukan dengan menggunakan kendaraan roda dua, atau angkutan umum.

Semua itu adalah pilihan, yang mau tidak mau harus diambil berdasarkan pertimbangan masing-masing…

Saya sendiri lebih suka bermotor ria. Mobil hanya digunakan sesuai kebutuhan. Ketika menghadiri pertemuan tertentu yang mengharuskan saya tampil segar, tidak terlihat kuyu karena baju kusut dan rambut tidak rapi, atau karena dalam satu perjalanan bersama istri dan anak-anak tersayang, atau karena hujan misalnya.

Selama ini, saking seringnya bepergian menggunakan motor, ternyata ada hal lain yang sedikit demi sedikit mulai tertanam dalam benak saya…

1. Ternyata dengan menggunakan motor, bisa menghemat waktu, memang selisihnya ‘hanya’ lebih cepat 20 menit perjalanan ruma ke kantor dibanding menggunakan mobil. Tapi, karena dilakukan rutin, waktu 20 menit itu menjadi berharga.

2. Dengan kalkukasi sederhana, kita bisa tahu bahwa dengan menggunakan motor, memberikan kontribusi terhadap penghematan bahan bakar minyak dunia (ya, minimal di Indonesia lah). Butuh bensin minimal 5 liter per hari untuk mobil, sedangkan motor, cukup dengan 1 – 2 liter saja. Jika dikalikan 260 hari kerja dalam 1 tahun, dikalikan sekian juta orang, maka akan didapat angka yang cukup signifikan tentunya.

3. Secara relatif, terjadi penghematan biaya. Saya katakan relatif, karena ada konsekuensi dari seringnya kita menggunakan motor, misalnya, upaya menjaga kesehatan tubuh menjadi lebih banyak (dibekam rutin, atau pijat tradisional, konsumsi makanan lebih sehat, vitamin, olah raga, de el el…).

4. Dengan mengikuti berbagai forum komunitas motor, secara tidak sadar saya membiasakan diri untuk berperilaku santun dalam berlalu lintas. Misal, member hak pengendara dari depan dengan tidak mengambil jalur kanan, ikut dalam antrian, memberi hak penyeberang jalan dengan tidak berhenti melewati garis tanda penyeberangan, memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi hanya pada waktu, tempat, dan kondisi tertentu saja, dan masih banyak yang bisa kita lakukan.

5. Karena menggunakan motor yang tidak ‘standar’ mudah-mudahan perilaku seperti ini diperhatikan pengendara lain sebagai sebuah perilaku positif, sehingga bisa menularkan kebiasaan berkendaraan yang santun dan beretika….

Tulisan ini tidak dimaksud untuk mempromosikan sesuatu. Tidak ada yang salah dengan selalu menggunakan mobil, tidak ada yang salah dengan pengguna angkot, tidak ada yang salah dengan mengendarai motor… Yang salah adalah sopir angkot yang ugal-ugalan, pengendara motor yang membahayakan pengguna jalan lainnya, dan pengendara mobil yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah lalu lintas.

Sering saya katakan kepada anak-anak saya, bahwa ‘aturan’ berlalu lintas itu simpel sekali, yaitu:

1. Jalur kiri untuk kendaraan lambat

2. Jalur kanan untuk kendaraan lebih cepat

3. Jangan biarkan orang lain tidak tahu ‘bahasa tubuh’ kendaraan kita, apakah akan belok, berhenti, atau memutar karena bisa mengakibatkan kecelakaan.

Semoga bermanfaat….

Salam

this is my bike:

my suzie gsx 250
my suzie gsx 250
my suzie gsx 250
my suzie gsx 250

11 thoughts on “Bawa Mobil, Motor, atau Naik Angkot? sebuah pilihan…

    1. Sae Yo… nu penting mah substansina tercapai, kita bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi rugi dan merugikan orang lain… sip….

  1. he he…
    coba liat di Cinunuk, penghubung Cileunyi – Cibiru Bandung, setiap Senin pagi….
    parrraaaahhh pisan….
    quo vadis Kota Bandung?

  2. Selalu ada alasan yang tepat untuk sebuah urusan, aktivitas atau kebiasaan orang menggunakan kendaraan. Tentunya yang naik motor pasti ada alasan yang tepat untuk naik motor, yang naik angkot pasti ada alasan yang tepat mengapa memilih moda transport tersebut, dan yang naik mobil juga pasti ada alasan yang tepat baginya.
    Pengalaman di Jakarta neeh…kelihatannya para pengendara motor ini sudah kaya jadi raja jalanan yang sangat tidak neperhatikan lagi hak-hak pengendara mobil di jalan raya.
    Jalan motor tertutup sedikit ajah..pengendaranya marah, melotot…sampai kadang kalo di layani mah bisa berantem deh…
    Saya merasakan etika berkendara bagi para pengguna mobil masih agak mendingan baik, kecuali angkot dan bis kota mah masih memerlukan pendidikan khusus.

    Tapi saya setuju dengan kang DHS, ketika menunggang motor kita harus menunjukan bahwa kita punya etika yang baik. Walaupun jadi kelihatan aneh…(yang bener malah anaeh).

    Cheers kang..
    Yudi Hadiwan

  3. Kalo saya mah tergantung dompet lah !!
    Lagi tongpes..pake scopy..!! lagi isi dikit pake boil..hehehehe..!! Tapi lebih nikmat pake motor kalo jalan sendiri..berasa jadi Ali Topan…hahahaa..!!

  4. wah, Ede paling duluan post reply euy… direply ke email gak masuk…..
    sip…
    yu atuh turing, jahe hangat mah di Ciwidey atuh nya?

  5. hehhe .. baru tau nikmatnya touring …. makanya touring itu banyak manfaatnya klo kita simak jauh jauh …
    — jadi kapan mau touring lagi ——-

  6. hehe … sipp lah info nya .. tapi jangan lupa sering sering touring atuh ….. supaya merasakan beta enak nya menikmati pemandangan di luar sana …..touring juga bisa menghilangkan setress … juga menguji mental berkendaraan apabila merasa kelelahan, kendaraan mogok , ban pecah, kebersamaan yg di bisa kita nikmati … klo cape itu bisa di obati dengan menikmati jahe hangat ato di pijet sajah …. heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s