Dalam sepekan ini, perjalanan menuju kantor melewati Jalan Braga, Jalan yang katanya akan menjadi etalase Kota Kembang ini. Jalan yang katanya sudah ada sejak zaman Belanda dulu. Jalan yang ada kopi terkenal-nya. Jalan yang merupakan laboratorium Arsitektur Art Deco Kota Bandung. Jalan yang pada zamannya menjadi kebanggaan orang ketika berbelanja di sini. Jalan dimana masih bisa ditemukan sebuah toko sepatu kulit handmade (oops…) yang produknya nyaman dipakai.
Belakangan, dengan alasan yang mestinya sudah penuh perhitungan, dengan mengesampingkan mereka yang kontra, materialnya diganti dengan batu alam, yang tentunya biayanya tidak sedikit, dengan nilai proyek yang tidak sedikit karena… ah sudahlah…
Ketika kemudian jalan yang merupakan jalur utama ini dilalui kendaraan dengan beban yang mungkin tidak mampu ditahan oleh material atau sub strukturnya, akhirnya mulai rontok alias rusak dan bergelombang. Alhasil, kerusakan kaki-kaki mobil anda yang sering melewati jalan ini disumbang oleh kondisi jalan ini yang ‘renjul’…
Rasanya jadi tidak berbeda antara berjalan di Jalan Rumah Sakit yang menghubungkan Ujung Berung ke Gede Bage, dengan berjalan di Jalan Braga ini. Bahkan lebih parah lagi. Kalau di Jl Rumah Sakit yang terasa adalah ‘superbowl’-nya, maka di Jl Braga ini ditambah dengan suara berisik-nya. Lengkaplah sudah…
Belakangan terlihat ada ‘sedikit’ upaya mengurangi beban lalu lintas di jalan ini dengan mengalihkan jalurnya. Jadi, bagi anda yang belum tahu, jangan heran kalau setelah Gedung Merdeka anda tidak bisa belok kanan langsung, tapi harus via Jl Cikapundung. Will it work? seperti biasa, kita tunggu setelah pesan-pesan berikut…
Ya, itulah Jalan Braga kini…. hiks…



