Kegiatan mudik Lebaran 1429/ Oktober 2008 kemaren memberikan pengalaman berharga sekali bagi kami sekeluarga. Berharga karena pertama kali kami berlima melakukan perjalanan darat dari Bandung menuju Jambi untuk berkumpul dengan keluarga istri di sana. Mungkin dari cerita ini ada pengalaman yang bermanfaat yang bisa diambil, karena sebelum berangkat, saya sempat googling mencari informasi tentang trip seperti ini tanpa hasil. Mungkin karena kurang cocok memasukkan keywordsnya.
Kami memutuskan untuk melakukan perjalanan darat dengan pertimbangan matang, mengingat putra bungsu kamiyang baru berusia kurang dari 2 tahun. Setelah yakin bahwa kondisi jalan lintas timur bagus, dan informasi timing yang cukup, dan berbagai pertimbangan lainnya, saya putuskan waktu itu untuk menyewa mobil dari rental yang cukup dikenal yang memberikan garansi kualitas kendaraan yang baik dan jaminan asuransi atas kendaraan. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut akhirnya kami putuskan menyewa sebuah T****A A****A keluaran tahun 2007.
Perjalanan dilakukan dalam tiga tahap. Pertama dari Bandung ke BSD, karena saya masih ada urusan pekerjaan di sana sambil keluarga bersilaturrahim dengan famili di sana. Tahap kedua adalah dari BSD ke Palembang, dan tahap ketiga adalah dari Palembang ke Jambi. Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti.
Bandung – BSD
Berangkat dari Bandung hari Jumat pagi, tiba di BSD pukul 09.15, lewat toll Cipularang-Cikampek-Cikunir-BSD tentunya.
BSD – Palembang
Berangkat dari BSD malam hari, sekitar pukul 22.00, langsung masuk toll Jakarta-Merak. Di salah satu rest area kami bergabung dengan saudara yang lain dengan dua kendaraan lain yang berangkat dari Jakarta.
Sepanjang toll Jakarta – Merak yang gelap gulita dan penuh dengan retak-retak dan lubang-lubang membuat perjalanan sedikit tidak nyaman. Kondisi jalan toll yang dibiarkan seperti itu terlalu lama. Tiba di Pelabuhan Merak pukul 00.00 langsung masuk ke antrian kendaraan untuk naik ke Ferry. Uang yang kami bayarkan sesuai yang tertera dalam tiket. Sekitar Rp 206.000 kalau tidak salah.
Karena kesalahan strategi memilih jalur antrian kami harus rela menunggu selama hampir 2 jam. Setelah salah seorang saudara melakukan observasi, akhirnya kami pindah jalur ke jalur paling kiri dan alhamdulillah, hanya dalam waktu tidak lebih dari 25 menit kami berhasil masuk ke dalam ferry.
Karena kelelahan, saya putuskan kami tidur di mobil dengan menyalakan pengkondisi udara (AC). Sekitar 2 jam akhirnya kami merapat di Pelabuhan Bakaueni Lampung.
Keluar dari pelabuhan, seperti di hampir semua tempat, kendaraan berebutan untuk keluar, tidak peduli lagi dengan budaya antri. Mungkin dikiranya hanya dia yang paling cape, hanya dia yang paling perlu cepet, hanya dia yang boleh tekan klakson, de el el.
Melihat indikator bahan bakar, akhirnya kami isi bahan bakar full di SPBU terdekat. Ya, kami upayakan mengisi penuh bbm di SPBU yang kami anggap ‘bagus’, kualitas dan kuantitasnya, sambil melakukan peregangan dan keperluan secukupnya (shalat, ke toilet, beli cemilan, air, dll)
Perjalanan dari Bakaueni ke Bandar Lampung dipenuhi dengan beberapa kejadian kecelakaan. Ada sepeda motor tertabrak mobil, bahkan ada yang sampai terlempar ke semak-semak. Mungkin karena terlalu lelah sehingga tidak bisa konsentrasi lagi yang menyebabkan beberapa kecelakaan itu terjadi.
Dari Bandar Lampung sampai menjelang perbatasan SumSel alhamdulillah tidak ada masalah. Tiga kendaraan kami saling berkejaran dengan kecepatan sedang-tinggi, tergantung kondisi dan situasi jalan. Dua kali kami berhenti untuk shalat dan istirahat. Menjelang maghrib kami tiba di Palembang, melalui Ampera II.
Karena saya belum familiar dengan kota Palembang dari arah ini, sementara kedua mobil lainnya seperti di rumah sendiri, akhirnya saya tertinggal dan sempat tersesat. Akhirnya saya putuskan untuk mencari tempat makan dan penginapan.
Masuk ke Jl Sudirman, kami berhenti di Noni (lupa huruf ujungnya pake ‘I’ atau pake ‘Y’ ya?), dan kamipun menikmati hidangan pempek Palembang, bersama-sama sekeluarga, untuk pertama kalinya asli di Palembang. Sambil meregangkan tubuh di luar, saya lihat ternyata di sebelahnya ada hotel yang ketika saya cek ternyata masih ada kamar kosong. Tanpa banyak pikir, kami pun pesan kamar di situ…
Belakangan baru saya tahu bahwa ternyata di Palembang ada kawan satu SMA yang bekerja di salah satu bank swasta di sana…. ah… sudahlah…
Palembang – Jambi
Rute Palembang – Jambi adalah rute favorit, karena selain dilakukan pada pagi hari, di mana matahari masih hangat-hangatnya bersinar, cuaca cerah, lalu lintas belum terlalu padat. Berangkat dari Palembang pukul 07.00 dan tiba di Jambi sekitar pukul 13.00. Sedikit mengalami kemacetan di Sei Lilin, ketika jalur Lintas Timur ini harus melewati pasar di dekat jembatan. So tipical kota-kota kecamatan di Jawa-Sumatera.
Oh ya, dalam perjalanan dari Bandung ke Jambi ini dana yang dikeluarkan khusus untuk bahan bakar saja sekitar Rp 500.000 (kurang dari 100 liter) untuk menempuh jarak 1.000 km lebih.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas semua petolongan dan kesempatannya sehingga kami bisa bersilaturrahim dengan keluarga di Jambi…



