Perjalanan ke Boven Digoel
Si ibu terlihat bingung menerima enam lembar uang lima puluh ribu yanag diberikan sebagai ‘pengganti’ atas ‘fasilitas’ penginapan yang kami gunakan (gudang kayu yang penuh dengan sarang laba-laba) dan makanan yang kami makan (daging rusa dimasak sedemikian rupa sehingga cukup menggugah selera). “Saya memang biasa menolong orang yang bermalam di sini, tapi saya tidak bermaksud memasang tarif dan menarik keuntungan dari itu”, kata si Ibu menambahkan, sambil mengembalikan tiga lembar uang tersebut kembali ke saya.
Kejadian tersebut dialami ketika sedang dalam perjalanan darat dari Merauke menuju Tanah Merah, ibukota Kabupaten Boven Digoel. Sengaja rute darat kami pilih, walaupun tempat tersebut dapat dicapai dengan menggunakan pesawat berpenumpang 18 orang. Banyak pengalaman yang mengesankan, untuk dapat merasakan sendiri beratnya perjalanan melalui darat ini…
(bersambung)
berikut beberapa foto yang sempat terekam…

Persiapan sebelum berangkat menuju Tanah Merah…
—

kendaraan terpaksa harus melalui jalan darurat karena jembatan yang rusak…
—

jembatan yang rusak itu… anda berani nyebrang seperti ini?..
—

jalan lumpur, bukan yang terparah…
—

salah satu sudut kota Tanah Merah …
—




Hebat Pak Dian….
Saya yang orang Merauke blom sampe ke Digoel tuh. Baru sebatas Asiki. Tapi saya ikut bangga Pak Dian bisa nunjukin foto-foto perjalanan seperti itu spy sodara-sodara lain di Indonesia juga bisa liat. Dalam rangka apa tuh Pak Dian dan teman-teman ke Digoel?
saya pengen gambaran jelas tentang tanah merah!!!
Salam kenal, smg blog ini masih aktif…nama saya ika skrng bekerja di UGM…dalam waktu dekat sy ada rencana ingin ke boven digoel…bolehkah sy minta nomor kontak/ email pak/mas Dian..krn sy belum punya bayangan apa2 ttg Boven Digoel….sebelumnya terimakasih…
Kapan ke Boven Digoel? silahkan hubungi 08134455541 dengan Steven dari Dinas Komunikasi Pemkab. Boven Digoel.
Pa Steven, terima kasih sudah kasih komentar di blog ini. Saya ke Tanah Merah sudah lebih dari 2 th yang lalu Pa… Semoga kalau ada kesempatan lagi saya bisa kontak Pa Steven deh, supaya bisa dapat banyak informasi toh?
Kang Sulwan, sebenarnya masih ada beberapa foto yang rencananya akan saya upload. Hanya saja, berhubung waktunya belum memungkinkan, saya belum sempet edit foto-fotonya. Kan gak enak lah kalo fotonya kelihatan memble, he he he…
Wah, subhanAllah, semoga Allah merahmati putrinya Kang Sulwan dan keluarga… amin.
Mangga, wilujeng.
Ayi Dian, Waduh punten nih akang baru balas lagi-panggil saja Kang Sulwan sebab nama Kosasih mah nama karuhun-heheh-Sekarang akang tinggal di bilangan Bintaro. Terima kasih atas ijin yang diberikan, soal kaidah dan etika, Insya Allah sudah dimulai dengan punten dulu ke Ayi Dian Heri. Ttg cerita kenapa di Mindiptana, Ya memang si bungsu dari tiga bersaudara ini sejak kecil suka tantangan, begitu selesai Sarjana Kedokteran Gigi-padahal sedang hamil-ia masuk program MM sambil menyelesaikan dokternya, suaminya seorang penerbang yang lahir, besar dan sekarang sering terbang di wilayah Papua sering menceritakan kondisi antara Jawa dan Papua-singkat kata ia bertekad mengabdi di pedalaman Papua, maka begitu selesai dan disumpah sebagai dokter gigi, ia langsung memilih Mindiptana-sebagai daerah pengabdiannya-jauh dari suami, anak semata wayangnya (cucu saya) dan tentu dengan kami sebagai ortunya sampai-sampai ia tak peduli dengan wisuda MM nya yang hanya berbeda semingguan dengan sumpah dokternya. Sebenarnya tugasnya hanya 6 bulan karena status sangat terpencil eh ia minta diperpanjang 6 bulan lagi karena merasa 6 bulan belum memberikan apa-apa bagi masyarakat setempat. Dan banyak foto2 Ayi Dian Heri yang serupa tapi tak sama dengan foto-foto yang dikirim anak saya sebagai bahan laporan- Eh kayak buat Cerpen ntar disangka macem-macem heheh padahal cuma satu macem untuk minta izin. Nuhun nya Yi, Allah membalas keikhlasan Ayi Dian Heri. Wass Akang-Sulwan