Archive

Archive for December 17, 2007

Kota kecil bernama Ciamis…

December 17, 2007 me. . 52 comments

” …. di sanaa tempat lahir betaa…. dibuaaai dibesarkan bundaa .. “

Rasanya sebaris lagu tsb cocok untuk menceritakan Ciamis, kota kecil di ujung timur Jawa Barat, tempat pertama kali menghirup udara dunia yang segar, tumbuh, selama sekitar sembilan belas tahun…

Banyak perubahan yang telah terjadi, kawasan ‘kota’ yang bertambah luas, ruas jalan bertambah panjang, kendaraan bertambah banyak, wajah kota yang mulai ‘agak’ berubah seiring dengan keberadaan toko-toko swalayan, dan juga area alun-alun, daerah favorit saya dan anak-anak setiap kali pulang kampung…

Taman raflesia, amphitheater, jogging track, ‘taman pijit refleksi’, air mancur, merupakan elemen-elemen baru yang turut mensukseskan keberadaan pusat Kota Ciamis tersebut, terutama di saat-saat bulan puasa.

Tak ketinggalan pula delman domba, atau sering disingkat deldom, kendaraan khas yang merupakan miniatur delman yang biasanya ditarik oleh kuda, turut memberikan suasana meriah di sana…

Berjuta kenangan yang terlintas setiap kali berada di kota manis ini, kenangan manis tentunya… masa kanak-kanak penuh keceriaan, suasana alam yang masih bersahabat yang alhamdulillah masih dapat dirasakan dan dialami oleh anak-anak kami…

Read more…

Categories: My Places Tags: ,

Perjalanan ke Boven Digoel

December 17, 2007 me. . 18 comments

Si ibu terlihat bingung menerima enam lembar uang lima puluh ribu yanag diberikan sebagai ‘pengganti’ atas ‘fasilitas’ penginapan yang kami gunakan (gudang kayu yang penuh dengan sarang laba-laba) dan makanan yang kami makan (daging rusa dimasak sedemikian rupa sehingga cukup menggugah selera). “Saya memang biasa menolong orang yang bermalam di sini, tapi saya tidak bermaksud memasang tarif dan menarik keuntungan dari itu”, kata si Ibu menambahkan, sambil mengembalikan tiga lembar uang tersebut kembali ke saya. Read more…

Satu Sudut di Nusantara

December 17, 2007 me. . 10 comments

“Bagi kami, untuk membeli baju anak dan istri mesti mikir-mikir Pa, karena harganya yang mahal”… kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga. Kalimat yang polos tadi keluar dari mulut salah seorang nelayan yang kebetulan malam itu sama-sama menginap di Pulau Abaruki, salah satu pulau kecil tanpa penduduk di perairan Teluk Wondama. Nelayan tersebut beserta beberapa rekannya seringkali menangkap ikan di daerah Teluk Cendrawasih, sekitar Kepulauan Auri (Auri nama salah satu marga). Kami menghabiskan malam tersebut bersama sekitar 12 orang (termasuk rombongan saya 6 orang). Kami tidur diatas hamparan pasir putih di tepi pantai, tanpa alas apapun, sambil menikmati irama ‘percakapan’ kepiting pantai (kepiting kecil-kecil berwarna putih agak transparan) dan deburan ombak. Read more…